17 Ekspresi Fumage modern Fase Pertama Seribu Ekspresi,
(Dari Kosong ke Tidak Tahu)
Aku memulai dari kosong bukan karena tak ada apa-apa, tapi karena segalanya belum bernama.

Kosong itu bukan hampa, melainkan di mana api pertama kali menyentuh kertas saat datang bingung, seperti asap yang belum tahu harus ke mana.
Setiap garis membentuk tanya, dan aku belum tahu siapa yang sebenarnya sedang kulukis: wajah orang lain, atau bayanganku sendiri.
Saat terkejut, api melompat tanpa izin membentuk luka yang indah.
Dari situ aku sadar: setiap kebetulan punya kehendak yang lebih besar dari tanganku.
Kemudian senyum sabar muncul, seperti cahaya kecil di tengah abu.
Ia tak memaksa, hanya menunggu waktu untuk diterima.
Tapi di balik kesabaran itu, ada tangis yang diam.
Air mata yang tidak tumpah, hanya menguap menjadi warna coklat muda di tepi kertas.
Dan setelah itu, datang kesal letupan kecil dari jiwa yang muak berpura-pura baik.
Api mulai menggigit lebih dalam, seperti ingin mengingatkan bahwa keindahan juga bisa lahir dari perlawanan.
Aku tertawa, tapi hanya tawa kikuk karena tak tahu lagi, sepertinya aku bodoh terlalu serius di dunia yang tidak serius.
Lalu muncul senyum manipulatif, bukan hanya dariku, tapi juga dari mereka yang kulihat setiap hari.
Wajah-wajah yang tampak tidak asli, tapi sebenarnya terjebak dalam peran yang mereka ciptakan sendiri.
Mereka tidak sadar sedang memakai topeng-topeng yang dulu mereka pakai untuk bertahan,
kini malah jadi wajah yang tak bisa mereka lepaskan.
Mereka tidak jahat, hanya lupa siapa diri mereka tanpa topeng itu.
Dan aku melihat, bagaimana dunia berjalan dengan wajah-wajah yang meniru senyum tanpa tahu lagi maknanya.
Di titik itu, aku berhenti menilai.
Karena mungkin aku pun sedang memakai topeng yang sama, topeng agar luka tampak indah di mata orang lain.
Namun api tahu segalanya.
Ia membakar geram di balik wajah itu, lalu menahan jeritan yang tidak pernah sempat keluar.
Di titik itu, aku merasakan kehilangan harapan warna kertas jadi lebih gelap, tepi-tepinya rapuh.
Tapi bahkan abu pun masih punya bentuk.
Lalu datang malu, bukan karena dilihat orang lain, tapi karena akhirnya melihat diri sendiri.
Dan setelah itu gugup, seperti pertama kali ingin bicara jujur tapi takut tidak dimengerti.
Wajah berikutnya khawatir, aku menatap sesuatu yang tak pasti.
Namun dari sana muncul senyum berkaca-kaca tanda bahwa masih ada cinta, meski terbakar sebagian.
Akhirnya, aku menahan tangis, bukan karena kuat, tapi karena sadar: kesedihan juga butuh ruang untuk diam.
Dan di ujung perjalanan ini, aku hanya bisa berkata:
Tidak tahu siapa aku, untuk apa api ini, dan mengapa semua semua ekspresi muncul dihidupku.

Tapi mungkin di situlah awal dari segala pencarian.
Refleksi Seniman : Langkah Awal dari Seribu
Tujuh belas ekspresi pertama ini adalah langkah pertamaku dalam menyalakan api perjalanan.
Langkah-langkah yang lahir dari kebingungan, keraguan, dan rasa tak berdaya tapi tetap melangkah.
Di sini aku tidak sedang mencari kesempurnaan,
aku hanya mencoba memahami bagaimana rasanya menjadi manusia yang utuh:
yang bisa bingung, bisa marah, bisa menangis,
namun tetap punya keberanian untuk melanjutkan.
Ketika sampai di ekspresi ke-17, aku sadar
aku sudah berada di titik terendah,
namun justru dari sanalah aku melihat arah.
Dari kosong hingga tidak tahu, aku belajar bahwa setiap wajah adalah bagian dari diriku sendiri.
Dan dari situlah lahir janji:
Bahwa aku hanya akan melukis seribu ekspresi seumur hidupku.
Bukan untuk membatasi, tapi untuk berkomitmen.
Untuk menjadikan setiap goresan, setiap luka di kertas,
sebagai bukti bahwa aku pernah mencoba memahami kehidupan
melalui seribu ekspresi fumage modern, dan satu jiwa yang membakarnya.